FATHAN FLORA

Kami ada di Sentra Tanaman Hias Harapan Indah Blok A4-A5, Bekasi - Indonesia, Contact Person : Anton (021 2627 0201 / 0815 8801 197) atau Juli (0858 8101 2160), Email Address : fathanflora@gmail.com / mailto:ciptakaryabersaudara@yahoo.com

TANAMAN HIAS INDOOR

TANAMAN HIAS INDOOR

KEGUNAAN TANAMAN INDOOR




Hasil kajian NASA Hasil kajian NASA menunjukkan ada 3 (tiga) bahan kimia yang mudah menguap yang terdapat di lingkungan rumah tinggal, gedung atau perkantoran yang berpotensi sebagai gas polutan. Untuk membantu menyerap gas-gas polutan di sekitar lingkungan Kita terutama di dalam ruang (rumah / kantor dll) bisa Kita gunakan Tanaman Indoor , karena ada beberapa jenis tanaman yang mampu menyerap gas-gas polutan spt : Dracaena, Sansevieria, Palm dll. Tanaman Indoor selain menyerap gas polutan juga memberikan keuntungan lainnya yaitu udara menjadi lebih segar & bersih, ruangan menjadi lebih indah & menarik. Dengan adanya kondisi demikian secara tidak langsung bisa mempengaruhi productivitas orang-orang yang ada dalam lingkungan tsb. Tanaman indoor sangat tergantung pada perawatan rutin dan cahaya. Jangka waktu daya tahan tanaman dalam ruangan bervariasi bergantung pada jenisnya, mingguan hingga bulanan.

28 Oktober 2008

Media Tanam Tanaman Hias

Penulis: Sri Wuryaningsih

Tanaman hias merupakan salah satu komoditas agribisnis yang cukup berarti di Indonesia, karena jenis ini dapat ditanam pada areal yang relatif sempit, mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dan diterima masyarakat. Berbeda dengan tanaman pangan, tanaman hias dinikmati konsumen dalam bentuk keindahannya.

Oleh karena itu tuntutan terhadap kualitas sangat tinggi. Sehingga teknologi budidaya perlu mendapatkan penanganan yang baik. Media tanam merupakan salah satu teknologi budidaya yang perlu mendapatkan perhatian. Pemanfaatan media tanpa tanah (MT3) dimasa yang akan datang mempunyai prospek yang bagus. Hal ini tidak saja akibat tuntutan sosial dari kebersihan lingkungan, namun juga dari aspek teknis dan ekonomis. Penggunaan MT3 mempunyai beberapa keuntungan, antara lain keseragaman mutu lebih tinggi, dan tidak mengandung inokulum penyakit. Apabila akan dikembangkan secara industri maka MT3 mempunyai prospek yang menjanjikan sebab semua produk tanaman hias apabila akan diekspor salah satu persyaratannya adalah harus bebas tanah. Masing – masing komoditas tanaman hias mempunyai kesesuaian media tumbuh yang berbeda baik untuk media pengakaran, tanaman pot maupun pertanaman di lapangan. Arang sekam, zeolit maupun pasir digunakan untuk media pengakaran stek melati, sedangkan sekam padi untuk tanaman hias Dracaena godseffiana. Untuk tanaman hias pot Spathiphyllum menggunakan campuran media tanah : kompos daun bambu : pupuk kandang = 1 : 3 : 1. Apabila tidak ada kompos daun bambu menggunakan sekam padi yang telah dikomposkan, kompos daun kaliandra maupun kompos daun andam. Di samping itu juga digunakan campuran kompos tandan kosong kelapa sawit : pupuk kandang = 1 : 1. Serbuk sabut kelapa maupun serbuk sabut kelapa + zeolit digunakan sebagai media tumbuh krisan pot, sedangkan untuk anthurium pot menggunakan serbuk sabut kelapa maupun serbuk sabut kelapa + arang sekam dengan EC pemberian pupuk NPK 1 dS/m. Melati pot menggunakan serbuk sabut kelapa maupun serbuk sabut kelapa + zeolit sedangkan arang sekam + zeolit digunakan untuk media mawar pot. Bunga potong anthurium di lapangan menggunakan media serbuk sabut kelapa + zeolit maupun serbuk sabut kelapa + zeolit + serat sabut kelapa sebagai mulsa, sedangkan untuk mawar tanam media serbuk sabut kelapa + zeolit. Pemanfaatan bahan – bahan tersebut sebagai media akan meningkatkan nilai tambah dan memberikan dampak ekonomis yang cukup besar.

Kata kunci : Media tanam tanpa tanah, melati, Dracaena godseffiana, spathiphyllum, anthurium, krisan, mawar

PENDAHULUAN
Pertumbuhan ekonomi nasional telah berkembang pesat selama dua dekade terakhir dengan laju rata – rata sebesar 6,8 %. Peningkatan taraf hidup rakyat yang ditandai dengan meningkatnya pendapatan dan gaya hidup masyarakat menyebabkan rakyat Indonesia mulai berkiprah untuk mencukupi kebutuhan sekunder antara lain kebutuhan akan produk-produk yang berasal dari tanaman hias. Untuk menambah kesegaran dan kesejukan suasana rumah juga telah banyak ditanam di halaman atau di pot-pot dan disusun secara asri.
Tanaman hias terbukti berpotensi untuk menjadi suatu sektor penggerak tambahan bagi pengembangan berbagai usaha yang sangat bermanfaat dalam memberikaan kontribusi terhadap GDP dan pendapatan petani. Hal tersebut telah dikaji oleh berbagai kelompok serta masyarakat produsen dan pedagang florikultura dunia. Perkembangan industri bunga di Indonesia telah dimulai melalui peranggrekan selama 40 tahun dan kini siap untuk meluncurkan sektor bunga lainnya agar dapat memberikan kontribusi yang nyata bagi pembangunan dalam rangka mensejahterakan bangsa di masa mendatang.
Total hasil (output) industri bunga nasional diperkirakan pada tahun 1996 adalah sebesar Rp 57,5 milyar atas dasar permintaan dalam negeri Rp 186 – 428 milyar pada tahun 2005.
Tanaman hias merupakan salah satu komoditas agribisnis yang cukup berarti di Indonesia , karena jenis ini dapat ditanam pada areal yang relatif sempit, mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dan diterima masyarakat. Berbeda dengan tanaman pangan, tanaman hias dinikmati konsumen dalam bentuk keindahannya. Oleh karena itu tuntutan terhadap kualitas sangat tinggi. Sehingga teknologi budidaya perlu mendapatkan penanganan yang baik. Media tanam merupakan salah satu teknologi budidaya yang perlu mendapatkan perhatian.
Media tanam adalah media yang digunakan untuk menumbuhkan tanaman/bahan tanaman, tempat akar atau bakal akar akan tumbuh dan berkembang. Disamping itu media tanam juga digunakan tanaman sebagai tempat berpegangnya akar, agar tajuk tanaman dapat tegak kokoh berdiri di atas media tersebut dan sebagai sarana untuk menghidupi tanaman. Tanaman mendapatkan makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangannya dengan cara menyerap unsur – unsur hara yang terkandung di dalam media tanam.
Media tanam yang paling umum digunakan adalah tanah. Namun dalam tulisan ini akan kami fokuskan pada media tanam tanpa tanah. Hal ini kami lakukan dengan pertimbangan sebagai berikut : Pemanfaatan media tanpa tanah (MT3) dimasa yang akan datang mempunyai prospek yang bagus. Hal ini tidak saja akibat tuntutan sosial dari kebersihan lingkungan, namun juga dari aspek teknis dan ekonomis.
Media tumbuh tanpa tanah mempunyai banyak keuntungan dibandingkan media tanah yaitu kualitasnya tidak bervariasi, bobot lebih ringan, tidak mengandung inokulum penyakit, dan lebih bersih (Hessayon, 1989). Berbagai produk media tumbuh tanpa tanah yang tersedia di pasar umumnya merupakan produk impor. Sedangkan banyak bahan-bahan yang terdapat di alam Indonesia dapat dimanfaatkan sebagai media tumbuh tanaman hias, antara lain kompos daun bambu, kompos pinus, kompos tandan kosong kelapa sawit, serutan kayu, sekam padi, bagas tebu, serbuk sabut kelapa dan zeolit. Dengan demikian penggunaan bahan – bahan tersebut akan lebih ekonomis dibandingkan produk impor karena ada di Indonesia dan harganya relatif murah. Kemudahan didapat dan harga yang murah biasanya berhubungan erat. Jika bahan mudah didapat atau banyak tersedia di sekitar lokasi, biasanya harganya murah. Sebaliknya jika bahan tersebut sulit didapatkan , maka harganya akan mahal. Dengan bahan media yang murah, biaya produksi yang diperlukan akan rendah, sehingga harga jual produk tanaman dapat lebih murah, berarti produsen tidak membebani konsumen terlalu berat dan konsumen akan terangsang untuk membeli.
Penelitian media tanpa tanah telah banyak diteliti, antara lain kompos tandan kosong kelapa sawit dipakai sebagai media tanaman hias Spathiphylum (Wuryaningsih dan Herlina, 1994; Wuryaningsih dkk., 1996). Bagas tebu, kompos kulit buah kakao, kompos tandan kosong kelapa sawit, sekam bakar dan serbuk sabut kelapa dapat dipakai sebagai campuran media tanam krisan bunga potong (Dwiatmini dkk., 1996).
Berdasarkan hal – hal tersebut maka apabila media tanpa tanah dikembangkan secara industri maka MT3 mempunyai prospek yang menjanjikan sebab semua produk tanaman hias apabila akan diekspor salah satu persyaratannya adalah harus bebas tanah. Tanah sama sekali ditolak karena mereka khawatir membawa hama (Syariefa, 2002). Selain kebersihan tanaman dan penampilan yang sempurna, tanaman harus bebas tanah, hama dan penyakit. Pada skala kecil masih memungkinkan penggunaan tanah sebagai bahan campuran media, namun pada skala besar , masalah yang timbul adalah berkaitan dengan kerusakan lingkungan.
Perlu dipertimbangkan juga bahwa berbagai produk MT3 di pasar pertanian Indonesia kebanyakan merupakan produk impor seperti perlite, vermiculite, rockwool, styrofoem beads, dll. Oleh karena dirancang untuk kondisi bukan tropis, kebanyakan dari media tersebut tidak sesuai untuk jenis tanaman di Indonesia ditinjau dari segi teknis dan/atau ekonomis.
Harga, ketersediaan , mudah penanganannya, mempunyai aerasi dan drainase baik mempengaruhi pemilihan media tumbuh. Di samping itu media harus memenuhi beberapa persyaratan antara lain mempunyai pH tanah yang stabil ( 5 – 6), tidak lekas melapuk dan tidak bersifat racun bagi tanaman, tidak menjadi sumber penyakit, mampu mengikat air dan zat – zat hara dengan baik (Conover, 1981)
Penelitian mengenai bahan dan komposisi campuran media yang ideal masih banyak dilakukan di berbagai tempat, disesuaikan dengan kondisi masing – masing tempat , terutama ketersediaan bahan yang hendak digunakan sebagai campuran media.
Menurut Poole dan Joiner (1981) pemilihan komponen campuran media harus dilakukan dengan mempertimbangkan tiga faktor, yaitu sifat fisik, sifat kimia dan faktor ekonomi (Tabel 4). Sehubungan dengan sifat fisik dan kimianya, yang terpenting adalah media tanam tersebut dapat menyediakan kondisi yang ideal bagi pertumbuhan tanaman, yaitu mempunyai aerasi yang baik, kapasitas memegang air yang tinggi dan dapat menyediakan hara yang cukup bagi pertumbuhan tanaman.
Sifat fisika mediaSifat fisik media yang diinginkan dari media / bahan campuran meliputi : volume ruang pori yang besar, kapasitas memegang air yang cukup, proses pemadatan dan dekomposisi bahan yang stabil, tingkat garam terlarut yang rendah, keseragaman dan berat jenis yang ringan, bersifat fisik yang remah, memiliki daya memegang air yang cukup, memiliki daya penyangga dan mudah sulitnya pelapukan.
Bahan agregat kasar yang sering digunakan meliputi pasir, vermiculite, perlite, zeolite dan material jenis lainnya. Bahan – bahan tersebut biasanya digunakan untuk meningkatkan ruang pori yang berisi udara. Pasir dan perlite menyerap sangat sedikit air atau nutrisi. Zeolite dapat menyerap sejumlah besar air dan nutrisi. Vermiculite yang bersifat seperti tanah yang diproses dengan suhu yang tinggi dapat memegang nutrisi dan air dengan baik. Vermiculite juga memberikan suplai K dan Mg pada campuran media.

Sifat kimiawi media
Kandungan hara yang banyak di dalam media bukanlah syarat mutlak, sebab nutrisi dapat diperoleh kapan saja dari pemupukan, meskipun media yang digunakan tidak mengandung nutrisi sama sekali. Terkadang dikehendaki media tanam yang berkadar nutrisi rendah atau sama sekali tidak ada kandungannya, dan nutrisi hanya diberikan dari pupuk anorganik dengan perhitungan yang cermat. Dengan demikian perhitungan nutrisi tidak terkacaukan oleh nutrisi yang telah ada yang kadar dan komposisinya belum diketahui.
pH media berpengaruh terhadap ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Pada pH yang tidak tepat, beberapa unsur hara tidak dapat larut dengan baik dan tidak dapat diserap oleh akar dalam jumlah yang mencukupi. Media tanam dengan pH tinggi dapat diubah dengan pengapuran , sedangkan pH terlalu rendah dapat dilakukan penambahan unsur belerang.
Garam terlarut (EC) merupakan nilai yang menunjukkan keadaan banyak atau sedikitnya ion – ion tersedia dalam tanah. EC sering dijadikan indikator kesuburan tanah, tetapi tidak dapat mengetahui unsur – unsur apa saja yang terkandung dalam tanah tersebut.
Media tanam yang baik tidak menginvestasi hama atau penyakit tanaman, karena tanaman dapat terganggu kehidupannya. Oleh karena itu dipilih media tanam yang paling sedikit potensi serangan hama/penyakit. Untuk amannya, perlu dilakukan sterilisasi , dengan sterilisasi potensi serangan hama/penyakit dapat dihilangkan.
Media yang mudah lapuk akan terurai dan hasil uraian merupakan sumber hara bagi tanaman untuk menunjang pertumbuhannya. Di lain pihak , volume hara akan cepat berkurang dan perlu penambahan tiap kali, yang sering menimbulkan keengganan. Media yang tahan lama ialah media yang tidak mudah lapuk dan dengan demikian tidak perlu penambahan tiap kali. Bahwa tidak atau sedikit sekali hasil uraian yang menjadi hara, hal itu tidak menjadi keberatan, karena dapat digunakan pupuk anorganik untuk pengadaan haranya.
Tidak mengandung bahan yang beracun : Ada bahan yang mungkin mengandung zat – zat tertentu yang jika bahan tersebut digunakan sebagai media tanam akan menghambat pertumbuhan tanaman. Beberapa jenis media mengandung bahan yang toksik dengan kadar yang berbeda – beda. Ada yang langsung dapat terlihat akibatnya, tetapi ada pula yang setelah waktu yang lama baru memperlihatkan gejala yang buruk. Misalnya kulit kayu pinus mengandung tanin dan zat lain yang mungkin dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Kayu cemara yang mengandung resin. Agar bahan tersebut dapat digunakan sebagai media/campuran media tanam, maka bahan tersebut harus diberi perlakuan suhu ( misalnya di-steam, direbus dsb) atau dibiarkan selama beberapa bulan, sehingga tidak ada lagi pengaruh dari zat – zat tersebut (Sutiyoso, tanpa tahun).
Daya penyangga (buffer) adalah kemampuan media untuk menyerap hara dan kemudian melepaskannya sedikit demi sedikit dan sedikit banyak menetralisir larutan yang terlalu asam atau terlalu basa.

Sifat ekonomi media

Media tanam sebaiknya berbobot ringan, terutama untuk pertanaman yang tidak langsung ditanam di tanah. Masalah transportasi akan menjadi lebih nyaman jika medianya ringan. Bahan yang digunakan hendaknya juga mudah didapat. Untuk usaha yang berskala besar, kemudahan mendapatkan bahan media akan sangat membantu kelancaran usaha. Di samping itu bahan media hendaknya harganya murah. Kemudahan didapat dan harga yang murah biasanya berhubungan erat. Jika bahan mudah didapat atau banyak tersedia di sekitar lokasi, biasanya harganya murah. Sebaliknya jika bahan tersebut sulit didapatkan , maka harganya akan mahal. Dengan bahan media yang murah, biaya produksi yang diperlukan akan rendah, sehingga harga jual produk tanaman dapat lebih murah, berarti produsen tidak membebani konsumen terlalu berat dan konsumen akan terangsang untuk membeli. Table 5 memperlihatkan harga – harga bahan media yang ada di pasaran.

Sifat Biologi Media

Media tanam yang baik tidak menginvestasi hama atau penyakit tanaman. Jika masih mengandung bibit hama/penyakit, tanaman dapat terganggu kehidupannya. Oleh karena itu sebaiknya dipilih media tanam yang paling sedikit potensi serangan hama/penyakit. Untuk lebih memastikannya, perlu dilakukan sterilisasi media tanam. Dengan sterilisasi, potensi serangan hama/penyakit dapat dihilangkan, sehingga media aman untuk digunakan. Menurut Conover, (1981) dan Poole & Joiner, (1994) media yang baik tidak menjadi sumber penyakit namun menguntungkan bagi pertumbuhan mikroorganisme (Handreck dan Black, 1994).

Penelitian penggunaan MT3 dalam makalah ini diuraikan menjadi tiga pokok bahasan

Media tanam untuk pengakaran
Pengakaran adalah usaha menumbuhkan akar dari bahan tanaman stek yang belum berakar dan mengembangkan perakaran sampai diperoleh jumlah perakaran yang cukup untuk mendukung pertumbuhan selanjutnya jika bibit akan dipindahkan ke tempat penanaman.
Media pengakaran yang baik yaitu media yang mempunyai porositas cukup, aerasi baik, drainase baik, kapasitas mengikat air tinggi dan bebas patogen dimana media dalam penyetekan ini berfungsi sebagai penahan stek selama masa pembentukan akar, menjaga kelembaban dan memudahkan penetrasi udara. Media penyetekan dapat mempengaruhi tipe perakaran dari tanaman yang tumbuh.
Menurut Handreck dan Black, (1994) media pembibitan mempunyai nilai kerapatan lindak lebih kecil dari 1,0 yaitu 0,3 – 0,6 g/cm3, sedangkan Hilel (1982) mengemukakan bahwa tanah mempunyai kerapatan lindak 1,5 – 2,5 g/cm3. Oleh karena itu penggunaan MT3 merupakan salah satu alternatif pemecahan untuk mendapatkan media pembibitan dengan kerapatan lindak lebih kecil dari satu. Sebagai ilustrasi serbuk gergaji, milled bark dan peatmoss mempunyai nilai kerapatan lindak antara 0,05 – 0,2 g/cm3 . Keseragaman media stek dengan memperbaiki sifat fisikanya merupakan hal yang penting untuk penyetekan, selanjutnya perlu penyesuaikan dengan pH spesifik yang diperlukan untuk masing – masing species tanaman untuk meningkatkan perakarannya. Peat dengan pH 4,4 – 6,6 baik untuk stek krisan (Paul dan Smith, 1966 ) sedangkan Paul dan Leiser, (196 persentase tertinggi pada stek Rhododendron pada peat dengan pH 4,38 – 5,60. Thuja occidentalis 7,1 – 9,3 (Bruckel and Johnson, (1969) dalam Economou and Read, (1986)
Erwiyono dan Goenadi, (1990) mengemukakan bahwa media campuran yang terdiri dari serbuk sabut kelapa 25 % volume dan pasir andesit 75 % volume memberikan kondisi terbaik untuk penyemaian kakao di pembibitan.
Pada tanaman melati Jasminum sambac Maid of Orleans persentase hidup dan pertumbuhan stek pada tiga macam media yang digunakan yaitu pasir, arang sekam dan zeolit memperlihatkan bahwa arang sekam mempunyai nilai persentase stek berakar tertinggi .(Wuryaningsih dan Andyantoro, 1998; Wuryaningsih 1998). Selain media tanam perbanyakan tanaman melati Jasminum sambac Maid of Orleans juga dipengaruhi oleh bahan setek yang digunakan. Penggunaan stek batang berbatang hijau 2 buku dengan 2 daun utuh menghasilkan stek terbaik selanjutnya diikuti oleh stek berbatang hijau 1 buku dengan 2 daun utuh dan stek berbatang coklat dengan 3 buku (Wuryaningsih, 1998). Terbentuknya akar adventif pada penyetekan dikendalikan oleh sejumlah faktor yang saling berinteraksi yaitu antara lain hara (makro, mikro, karbohidrat, air), lingkungan (sinar, temperatur dan oksigen), bahan stek (umur jaringan, umur fisiologi, juvenility, tingkat differentiasi dan penyakit) yang semuanya dalam mekanisme yang kompleks dan saling mempengaruhi. Awal terbentuknya akar pada stek dikendalikan oleh sejumlah faktor yang saling berinteraksi baik dari dalam maupun luar tanaman yang berperan kompleks dalam mekanisme pembentukan akar. Jika ada salah satu faktor yang membatasi maka seluruh proses pembentukan akar mungkin akan terhambat (Economou dan Read, 1986). Penggunaan stek berbatang hijau 2 buku dengan 2 daun utuh mempunyai tingkat persediaan karbohidrat lebih banyak dibandingkan stek satu buku dengan 2 daun utuh dan mempunyai jaringan tumbuh yang lebih muda dibandingkan stek berbatang coklat dengan 3 buku. Penggunaan stek 2 buku dengan 2 daun utuh mempunyai persentase bertunas dua kali lebih banyak dibandingkan stek 1 buku dengan 2 daun utuh.(Wuryaningsih dan Andyantoro, 1998).
Tanggap beberapa kultivar melati pada media penyetekan (arang sekam , zeolit dan pasir) memperlihatkan bahwa arang sekam dan zeolit menghasilkan pertumbuhan akar melati yang lebih baik dari pada pasir (Tabel 1). Jasminum sambac Maid of Orleans menunjukkan nilai persentase stek berakar, panjang tunas dan panjang akar tertinggi yaitu berturut – turut 93,05 %, 2,99 cm dan 12,68 cm diikuti oleh Jasminum officinale dan Jasminum multiflorum serta Jasminum sambac Grand Duke of Tuscany.

Arang sekam mempunyai karakteristik ringan (berat jenis 0,2 kg/l), kasar sehingga sirkulasi udara tinggi, kapasitas menahan air tinggi, berwarna hitam sehingga dapat mengabsorbsi sinar matahari dengan efektif. Rongganya banyak sehingga akan baik aerasi dan drainasenya, sedangkan akar akan mudah bergerak diantara butiran arang sekam tersebut. Arang sekam telah steril, karena saat pembuatannya telah mendapat panas yang tinggi dari proses pembakaran sehingga tidak memerlukan desinfeksi dengan kemikalia apapun, mempunyai daya melapuk lambat dan dianggap dapat bertahan kira-kira satu tahun sehingga dapat digunakan beberapa kali penyetekan. Berdasarkan observasi media yang sama dapat digunakan 4 – 5 kali penyetekan. Analisis Japanese Society for Examining Fertilizer and Fodders komposisi arang sekam paling banyak mengandung senyawa SiO2 = 52 %, C = 31 %; Fe2O3; K2O;MgO; CaO; MnO dan Cu dalam jumlah yang sangat kecil,juga mengandung bahan – bahan organik. Sedangkan menurut analisa Suyekti (1993) arang sekam mengandung N 0,32 %, P 0,15 %, K 0,31 %, Ca 0,96 %, Fe 180 ppm, Mn 80,4 ppm, Zn 14,10 ppm dan pH 6,8.
Penggunaan 8 macam media dan bahan stek Dracaena godseffiana diperoleh hasil bahwa penggunaan stek batang yang ditumbuhkan pada media sekam padi menghasilkan jumlah, panjang dan volume akar stek terbaik masing – masing dengan nilai 14,67 buah; 5,46 cm dan 0,255 ml (Wuryaningsih, 1997). Selanjutnya diikuti oleh serbuk sabut kelapa, namun sayangnya sekam padi ini kemungkinan akan ditolak sebagai media apabila bibit tersebut akan diekspor. Importir palem di Hongkong menolak media sekam padi, yang diinginkan media bekas serutan kayu jati atau sekam padi yang sudah dibakar. Sekam padi harganya murah, ringan, drainase dan aerasinya baik, tahan dekomposisi, dapat digunakan dalam bentuk segar maupun dibakar yang dikenal dengan arang sekam. Sekam padi tidak mempengaruhi pH, larutan garam atau ketersediaan hara ( Joiner, 1981), ada ketersediaan hara antara lain N 1 % dan K 2 %. Sekam kulit padi bila digunakan dalam bentuk segar sebaiknya dikomposkan terlebih dahulu. Dengan pengomposan, sisa – sisa gabah juga akan mati, sehingga menghilangkan potensi tumbuhnya gulma yang berupa semai padi. Sekam tersebut mengandung unsur silikat, yang walau agak sulit diserap oleh akar tanaman, mempunyai pengaruh baik dalam penguatan sel dan jaringan, sehingga tanaman mempunyai daya tahan terhadap jamur dan sebagainya.

Media tanam untuk tanaman pot
Media tanaman pot pada prinsipnya harus memenuhi syarat – syarat yang antara lain adalah bahan atau campuran media harus dibuat sedemikian rupa agar tetap remah, mampu memegang air, tidak beracun dan sebagainya seperti yang dibutuhkan tanaman. Sifat media dalam pot yang paling dikehendaki kebanyakan orang adalah media yang ringan dan bersih. Dengan media yang ringan, sangat mempermudah transportasi atau pengaturan posisi penempatan tanaman pot tersebut. Bagi penjual akan mempermudah pengangkutan tanaman pot yang sudah jadi dari kebun produksi ke pasar, sedangkan pembeli akan mempermudah pengangkutannya dari pasar ke tempat yang dikehendaki. Selain itu untuk mengatur tempat yang paling tepat bagi tanaman pot terutama untuk dekorasi, pemindahan kesana – kesini akan mudah jika media tanamnya ringan.
Syarat – syarat media tanam untuk tanaman pot tidak seketat media untuk pengakaran. Bahan tanaman yang digunakan di dalam pot adalah bibit tanaman yang sudah berakar, sehingga lebih kuat dan mampu segera beradaptasi dengan lingkungan media yang baru bila dibandingkan dengan bahan stek yang belum atau mulai sedikit berakar.

Media tanam untuk beberapa tanaman pot dikemukakan sebagai berikut :

Spathiphyllum

Beberapa media yang banyak di pasaran yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman Spathiphyllum sp adalah kompos daun bambu, sekam segar, kompos daun andam yang dikombinasikan dengan pupuk kandang. Penggunaan 4 kombinasi media tumbuh dan 4 level konsentrasi pupuk pada tanaman hias dapat dikemukakan bahwa kombinasi antara tanah : kompos daun bambu : pupuk kandang = 1 : 3 : 1 dan konsentrasi pupuk NPK 2 g/l menghasilkan jumlah anakan terbesar pada akhir percobaan yaitu rata – rata 7,2 buah (Wuryaningsih dan Herlina, 1993). Kompos daun bambu murah, ringan, aerasi baik dan banyak digunakan oleh petani tanaman hias di daerah Cipanas. Daun bambu, yang berasal dari daun-daun bambu yang berserakan dibawah rumpun bambu, dalam berbagai tingkat pelapukan, mulai dari yang masih terlihat bentuk daunnya, atau yang sudah mulai hancur sebagai serpihan – serpihan, sampai yang sudah menjadi halus menyerupai tanah dapat dikumpulkan untuk menjadi bahan media tanam. Pupuk kandang yang digunakan harus sudah matang, yang sudah tidak panas lagi, warnanya sudah hitam serta sudah hancur. C/N rationya sudah baik, kira – kiar 15 : 1 untuk dapat digunakan dengan aman. Pupuk kandang biasanya tidak awet, karena dengan lahap akan dimakan akar, sehingga sering kita harus menambahkan.
Sepuluh macam campuran media yang dicoba pada tanaman hias Spathiphyllum sp menunjukkan bahwa tinggi tanaman, jumlah anakan, panjang dan lebar daun pada media campuran pupuk kandang : kompos andam = 1 : 1 v/v terbaik. Sekam segar dapat digunakan sebagai bahan campuran media pot pengganti kompos bambu, kompos kaliandra dan kompos andam untuk tanaman hias Spathiphyllum sp. (Wuryaningsih dan Herlina, 1994). Kompos kaliandra merupakan kompos dari tanaman kaliandra dimana tanaman leguminosa ini berdaun halus, bunganya berwarna merah cerah, sering digunakan untuk menghijaukan tanah kritis dan dapat juga digunakan untuk ditanam sepanjang jalan tol. Tanaman kaliandra berakar panjang dimana akar tunjang dapat menembus lapisan tanah sehingga dapat memanfaatkan mineral di dalam tanah untuk pertumbuhan. Daun-daun tanaman ini mudah gugur dan busuk di atas tanah sehingga mengakibatkan tanah menjadi subur. Daunnya setelah dikomposkan akan baik sekali digunakan sebagai media, terutama bagi tanaman vegetatif yang masih kecil. Tanaman akan terlihat sehat dengan pertumbuhan yang menyenangkan. C/N rationya kecil, yang menandakan kandungan hara N nya tinggi dan karenanya dianggap baik sekali. Di lain pihak , karena tanaman banyak menyerapnya, maka dalam beberapa bulan hara tadi telah habis diserapnya, sehingga sering kita harus menambahkannya. Atau memberi tambahan pupuk NPK untuk mempertahankan tingkat kesuburananya. Kompos kaliandra dan andam diperoleh dan banyak digunakan petani tanaman hias di daerah Bogor.
Pemanfaatan sekam padi sebagai media tanaman hias Spathiphyllum sebaiknya dikombinasikan dengan pupuk kandang. Kombinasi sekam padi dengan pupuk kandang 1 : 2 menghasilkan tanaman Spathiphyllum yang tinggi, dan daunnya lebar (Wuryaningsih dan Darliah, 1994). Penggunaan sekam segar cukup dikomposkan terlebih dahulu. Dengan pengomposan, sisa – sisa gabah juga akan mati, sehingga menghilangkan potensi tumbuhnya gulma yang berupa semai padi.
Pemanfaatan kompos tandan kosong kelapa sawit sebagai media tanaman hias Spathiphyllum menunjukkan bahwa komposisi media berpengaruh nyata terhadap semua parameter yang diamati kecuali pori terisi udara dan kadar N daun, sedangkan frekuensi pemupukan tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter yang diamati kecuali terhadap tinggi tanaman dan kadar K pada tanaman. Kombinasi 50 % kompos TKKS dan 50 % pupuk kandang adalah media yang baik untuk tanaman Spathiphyllum . Penggunaan kompos TKKS untuk media dapat mengurangi biaya dan mengatasi masalah kekurangan media bagi pengusaha/petani bunga dan memanfaatkan serta mengurangi limbah dalam industri minyak sawit (Wuryaningsih dkk., 1995).
Nisbah kompos tandan kosong kelapa sawit dan pupuk kandang dengan pemupukan NPK untuk pertumbuhan tanaman hias pot Spathiphyllum menunjukkan bahwa untuk memperoleh pertumbuhan tanaman Spathiphyllum yang baik, penggunaan media kompos TKKS memerlukan penambahan pupuk kandang atau pupuk NPK ( 15 : 15 : 15). Tanpa pemberian pupuk NPK nisbah TKKS : pupuk kandang = 1 : 1 menunjukkan nilai penambahan daun terbesar sedangkan TKKS : pupuk kandang = 1 : 3 menunjukkan nilai tinggi tanaman terbesar. Tanpa pupuk kandang pemberian pupuk NPK 6 g/tanaman menunjukkan penambahan daun terbesar sedangkan pemberian pupuk NPK 4 g/tanaman menunjukkan nilai tinggi tanaman terbesar. Kompos tandan kosong kelapa sawit merupakan limbah dari tandan buah segar kelapa sawit sebesar 27 % yang rata – rata pertahun nilainya 2,7 juta ton tandan kosong kelapa sawit.Pemakaian kompos TKKS untuk media tanam tanaman hias Spathiphyllum perlu pencampuran pupuk organik disamping pupuk anorganik (Wuryaningsih, 1996).

Krisan pot
Respon pertumbuhan tiga kultivar krisan pot pada media serbuk sabut kelapa diketahui bahwa Reddelano mempunyai penampilan tinggi tanaman, diameter tanaman dan diameter bunga dengan nilai terbesar yaitu berturut – turut 35,85 cm, 41,85 cm dan 10,62 cm (Tabel 2). Sedangkan Redding mempunyai diameter bunga terkecil yaitu 7,65 cm. Tinggi tanaman, diameter tanaman dan jumlah jumlah bunga per pot dari tanaman krisan yang tumbuh pada media serbuk sabut kelapa maupun serbuk sabut kelapa + arang sekam tidak berbeda nyata dengan yang tumbuh pada campuran media yang menggunakan tanah bahkan pada media serbuk sabut kelapa menghasilkan diameter bunga terbesar 10,00 cm. Kultivar Reddelano dan Miramar yang menggunakan media serbuk sabut kelapa memberikan jumlah bunga per pot dengan nilai tertinggi yaitu masing –masing 17,22 bunga dan 20,29 bunga (Wuryaningsih dkk., 2000). Berdasarkan pada peubah – peubah tersebut dapat dikemukan bahwa penggunaan serbuk sabut kelapa sebagai media tumbuh tanaman krisan pot dapat sebagai pengganti tanah.
Respon klon harapan krisan pot terhadap komposisi zeolit dan serbuk sabut kelapa serta zeolit dan serbuk gergaji diperoleh hasil bahwa serbuk sabut kelapa dan zeolit dapat digunakan sebagai media pengganti tanah.

Krisan pot yang tumbuh pada media serbuk sabut kelapa dan zeolit berdaun lebih hijau dan lebih tegar dibandingkan dengan krisan pada media serbuk gergaji dan zeolit. Semua klon harapan krisan pot yang ditanam pada media serbuk sabut kelapa dan zeolit menghasilkan penampilan tanaman lebih baik, daun dan bunga lebih banyak serta diameter tanaman nyata lebih besar daripada yang ditanam pada media serbuk gergaji dan zeolit. Hasil analisis regresi menunjukkan adanya hubungan linier positif antara jumlah daun dan tinggi tanaman, jumlah daun dan jumlah bunga serta antara jumlah daun dan diameter tanaman (Wuryaningsih dkk, 2001).
Serbuk sabut kelapa yang merupakan limbah dari industri kelapa mempunyai sifat fisik dan kimia yang cocok sebagai campuran media dan telah banyak digunakan sebagai bahan campuran media di luar negeri. Di Indonesia sendiri walaupun jumlah serbuk sabut kelapa sangat berlimpah, penggunaannya sebagai media tanam masih sangat kecil. Serbuk sabut kelapa biasa digunakan untuk meningkatkan kapasitas memegang air dan aerasi. Pada umumnya serbuk sabut kelapa mempunyai kandungan nutrisi yang rendah dan memiliki kemampuan untuk memegang nutrisi yang cukup baik. Serbuk dari sabut kelapa tua memiliki C/N yang tinggi, sekitar 215, jadi awet selama beberapa tahun, karena melapuknya lambat sekali. Karena kandungan haranya rendah, dalam penggunaannya perlu ditambahi pupuk anorganik. Selain itu, juga terdapat kandungan tanin dan fenol, yang mungkin akan menghambat pertumbuhan. Kandungan zat tersebut dapat dihilangkan dengan perlakuan suhu ( di steam, digongseng atau direbus) atau dibiarkan selama beberapa bulan sampai satu tahun hingga kadar zat tersebut jadi berkurang dan tidak berbahaya bagi tanaman. Serbuk sabut kelapa mudah didapat dan murah harganya, mempunyai daya menyimpan air sangat baik serta mengandung unsur-unsur yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Serbuk sabut kelapa merupakan sumber kalium yang diperlukan tanaman, selain juga merupakan sumber unsur N, P, Ca dan Mg meskipun dalam jumlah yang sangat kecil (Ketaren dan Djatmiko, 1981). Serbuk sabut kelapa sangat halus memiliki aerasi 15 – 25 %, kapasitas menahan air 800 %, pori total 95 %, kerapatan lindak 250 kg/m3 dengan unsur – unsur utama adalah total nitrogen 5238 ppm, N tersedia sebagai NH4-N 96 ppm, NO3-N 45 ppm, C/N ratio antara 110 – 139 (Van Holm, 1993), phosopor 330 ppm, kalium 9787 ppm, calcium 2521 ppm dan magnesium 2006 ppm. Di negeri Belanda serbuk sabut kelapa telah digunakan sebagai media tanaman hias secara luas yaitu sekitar 50 ha untuk tanaman pot serta 50 ha untuk tanaman mawar (Ineke Van Magelend - Laagland, 1995).

Anthurium
Penggunaan media serbuk sabut kelapa terhadap pertumbuhan anthurium pot menunjukkan bahwa tinggi tanaman dan jumlah daun anthurium pada media serbuk sabut kelapa maupun serbuk sabut kelapa + arang sekam tidak berbeda nyata dengan media tanah dan campurannya (Tabel 3). Perbedaan yang nyata ditunjukkan oleh peubah jumlah bunga (Wuryaningsih dkk., 1999). Oleh karena itu apabila serbuk sabut kelapa ini akan dikembangkan sebagai media tanam anthurtium maka diperlukan penelitian lanjutan untuk menstimulir produksi bunga.

Pemilihan media tumbuh dan level NPK untuk pertumbuhan tanaman anthurium menunjukkan bahwa media serbuk sabut kelapa menghasilkan tanaman dengan persentase berbunga dan jumlah bunga tertinggi sedangkan pemupukan N, P dan K menghasilkan daun dan anakan nyata lebih banyak dibandingkan dengan pemupukan NPK + unsur mikro. Pemupukan N, P dan K = 24 : 8 : 8 dapat meningkatkan daun 256 % dibandingkan kontrol. Warna daun pada kontrol hijau kekuningan pada semua media yang digunakan. (Wuryaningsih dkk., 2000). Dapat dikemukakan bahwa penggunaan media tumbuh serbuk sabut kelapa pada anthurium dalam percobaan ini belum memerlukan tambahan hara mikro.
Pengaruh media tumbuh dan level elektrik conductivity untuk pertumbuhan tanaman anthurium pot menunjukkan bahwa tanaman anthurium pot yang tumbuh pada media serbuk sabut kelapa menghasilkan jumlah daun , jumlah anakan dan jumlah bunga lebih besar dibandingkan pada media serbuk sabut kelapa + zeolit. Pemberian pupuk dengan Ec 1 dS/m menghasilkan tanaman anthurium yang tidak berbeda nyata dengan 1,5 dS/m, dengan demikian untuk menghemat pemakaian pupuk maka cukup dengan pemberian 1 dS/m. Hasil yang sama juga untuk anthurium bunga potong yang dilaporkan oleh Wuryaningsih dkk., (2001). Sedangkan waktu pencucian perlu diteliti lebih lanjut dengan menambah waktu untuk memperoleh sampai seberapa jauh respon tanaman terhadap periode pencucian (Wuryaningsih dkk., 2002). Dengan bertambah lamanya waktu pencucian (7 minggu) diduga akan mengakibatkan media mempunyai kadar garam terlarut lebih besar dibandingkan dengan media yang dicuci lebih sering (3 minggu atau 5 minggu), Namun dengan pencucian 7 minggu sekali terlihat tanaman anthurium masih tahan, walaupun anthurium merupakan salah satu jenis tanaman hias yang peka terhadap konduktivitas listrik yang tinggi dari media tumbuhnya. Hasil observasi nilai EC yang tertinggi pada media dengan pencucian 7 minggu adalah 0,42 dS/m. Nilai ini masih dalam kisaran tanaman masih dapat diberi pupuk slow release (Handreck dan Black, 1994).Garam terlarut (EC) merupakan nilai yang menunjukkan keadaan banyak atau sedikitnya ion – ion tersedia dalam tanah. EC sering dijadikan indikator kesuburan tanah, tetapi tidak dapat mengetahui unsur – unsur apa saja yang terkandung dalam tanah tersebut. Sebagai pedoman menurut Handreck dan Black, (1994) bahwa nilai EC (1 : 1,5 volume ekstrak) <>1,8 dS/m terlalu tinggi perlu pencucian.
Sabut kelapa merupakan sumber kalium yang diperlukan tanaman, selain juga merupakan sumber unsur N, P, Ca dan Mg meskipun dalam jumlah yang sangat kecil (Ketaren dan Djatmiko, 1981). Impatiens yang tumbuh sebagai tanaman pot menampakkan penampilan yang sama baik dalam serbuk sabut kelapa maupun peat, sedangkan Fuchsia nyata lebih bagus tumbuh dan kualitasnya dalam media yang dicampur serbuk sabut kelapa dibanding dalam peat. Dengan pemberian hara yang sama baik Fuchsia dan Impatiens pertumbuhan akar dalam media serbuk sabut kelapa lebih vigor dibanding dalam peat. Hal ini disebabkan sifat fisik serbuk sabut kelapa yang menguntungkan. Percobaan dengan Cineraria, Pansy dan Primula menunjukkan pertumbuhan yang sama dalam media serbuk sabut kelapa, peat, serat kayu dan kulit kayu. Meerow, 1995 melaporkan bahwa indeks pertumbuhan dan berat kering tunas dan akar dari Ravenea rivularis (palem mayesty) nyata lebih tinggi dalam serbuk sabut kelapa dibanding dalam sedge peat. Pada anthurium indeks pertumbuhan dan berat kering tunas dalam serbuk sabut kelapa sedikit lebih tinggi dibanding dalam medium sedge peat dengan berat akar yang sebanding. Serbuk sabut kelapa dapat sebagai pengganti sphagnum atau sedge peat dalam media tanpa tanah.

Melati
Komposisi zeolit + serbuk sabut kelapa dan zeolit + serbuk gergaji untuk pertumbuhan tanaman melati (Jasminum sambac Ait.) menunjukkan bahwa media zeolit + serbuk sabut kelapa nyata lebih baik dibandingkan media zeolit + serbuk gergaji (Tabel 4). Tanaman yang ditumbuhkan pada media zeolit + serbuk sabut kelapa daunnya lebih hijau dan tanaman lebih tegar dibandingkan pada media zeolit + serbuk gergaji. Media serbuk sabut kelapa dan serbuk sabut kelapa + zeolit dapat meningkatkan tunas 1,43 kali, bunga 3 kali lebih banyak dibandingkan media serbuk gergaji maupun serbuk gergaji + zeolit. Media serbuk sabut kelapa + 200 g zeolit dengan ukuran U3 mempunyai penampilan pertumbuhan tanaman yang terbaik dan daun terbanyak yaitu 41,83 helai (Wuryaningsih dkk., 2001).

Komposisi limbah hasil tanaman dan zeolit yang terbaik sebagai media tumbuh alternatif untuk melati pot memperlihatkan bahwa penggunaan serbuk sabut kelapa dan zeolit dengan komposisi 3 : 1 dan 1 : 1 menghasilkan tinggi dan jumlah daun tanaman melati tertinggi. Bagas tebu dan arang sekam padi yang dikombinasikan dengan zeolit menghasilkan daun yang lebih banyak dibanding melati pada media arang sekam padi atau zeolit saja. Pada media arang sekam atau bagas tebu menghasilkan kuntum bunga lebih banyak. Baik bobot akar segar maupun bobot kering tanaman pada media zeolit paling ringan dibanding pada media lainnya (Wuryaningsih dkk., 1998).
Zeolit tersebar luas di berbagai tempat di Indonesia, karena zeolit terbentuk dari bahan gelas vulkanik yang dikeluarkan dari gunung betapi ratusan ribu tahun yang lalu. Sampai saat ini tidak kurang dari 47 lokasi deposit zeolit telah ditemukan yang tersebar dari pulau Sumatera, Jawa, Lombok, dan Sumba. Dari deposit itu, beberapa di antaranya telah diteliti secara intensif dan dilakukan penambangan, seperti Lampung, Bayah (Banten Selatan), Cikembar (Sukabumi), Nanggung (Bogor) dan Cikalong (Tasikmalaya) (Pusat Pengembangan Teknologi Mineral, 1994).
Zeolit atau mineral aluminosilikat merupakan batuan alam yang bersifat alkali yang bermanfaat sebagai penukar kation alkali, sehingga unsur hara yang tadinya tidak tersedia menjadi tersedia. Zeolit tersebar luas di berbagai tempat di Indonesia karena zeolit terbentuk dari bahan gelas volkanik yang dikeluarkan oleh gunung api ratusan ribu tahun lalu (Pusat Pengembangan Teknologi Mineral, 1994)
Zeolit tersebar luas di berbagai tempat di Indonesia karena zeolit terbentuk dari bahan gelas volkanik yang dikeluarkan oleh gunung api ratusan ribu tahun lalu. Zeolit mempunyai sifat sebagai penukar ion dan penyaring molekul (Ames, 1960), sehingga diharapkan hara – hara yang diberikan melalui pemupukan dapat diikat dan tidak mudah hilang sebelum dimanfaatkan tanaman. Penggunaan zeolit sebagai media tanam dalam pertanian akhir – akhir ini cenderung meningkat dan diramalkan akan lebih luas pnggunaannya pada masa yang akan datang. Salah satu negara yang sudah lama menggunakan zeolit dalam bidang pertanian adalah Jepang. Lebih dari 150 ribu ton zeolit setiap tahun diproduksi di Jepang (Minato, 1994). Sebagian besar digunakan di bidang pertanian seperti padang golf, padi sawah, media tumbuh tanaman dan penyerap bau pada proses pengomposan. Penambahan 3 – 7 % zeolit butiran pada beberapa tanaman sayur dan hias menghasilkan sama atau lebih baik daripada media komersial yang mengandung 15 % mointmorillonit clay dan zeolit dapat menjaga stabilitas volume media (Catiivello, 1995).

Mawar
Komposisi media tumbuh dan pupuk atau kombinasinya untuk pertumbuhan dan pembungaan mawar pot memperlihatkan bahwa media arang sekam : zeolit = 3 : 1 v/v menunjukkan nilai komposisi tinggi tanaman (28,26 cm) , jumlah tunas (9,54 tunas), 50 % bunga mekar (47,04 hari) dan produksi bunga (26,83 bunga) tertinggi (Tabel 5). Pupuk cultisol memberikan tinggi tanaman dan produksi bunga terbesar yaitu 25,21 cm dan 21,47 bunga dan tidak berbeda nyata dengan pupuk NPK. (Wuryaningsih dan Herlina, 1998).
Arang sekam bersifat absorben atau mudah menyerap. Jadi mungkin saja akan memfiksasi atau menyerap pupuk anorganik yang diberikan, sehingga tidak tersedia bagi tanaman. Untuk menghindari hal tersebut, arang sekam perlu disiram sampai jenuh dengan larutan pupuk anorganik. Penyiraman tersebut juga berarti penjenuhan kandungan air, mengingat arang bersifat higroskopis (mudah menyerap air) sehingga akan menyebabkan akar tanaman menjadi kering bila tidak dijenuhi dengan air terlebih dahulu. Arang sekam telah steril, karena saat pembuatannya telah mendapat panas yang tinggi dari proses pembakaran.
Tanggap berbagai kultivar mawar terhadap media tumbuh yang mengandung zeolit + serbuk sabut kelapa dan zeolit + serbuk gergaji menunjukkan bahwa tunas yang dihasilkan pada media serbuk sabut kelapa maupun serbuk sabut kelapa + zeolit kultivar Selabintana mencapai 2,42 kali, Maribaya 2,59 kali dan Cipanas Dwi Warna 3,40 kali lebih tinggi dibandingkan pada media serbuk gergaji.

Anthurium
Anthurium tumbuh baik pada media mempunyai kapasitas menahan air dan mampu mengikat hara dengan baik. Banyak bahan - bahan yang terdapat di sekitar kita dapat dimanfaatkan sebagai media tumbuh antara lain sabut kelapa baik serat maupun serbuknya (serbuk) . Media tumbuh dan level kepekatan ion (EC) untuk pertumbuhan anthurium bunga potong dengan bahan mudah didapat, murah dan ramah lingkungan menunjukkan bahwa media serbuk sabut kelapa + zeolit menghasilkan daun, tinggi tanaman, ukuran daun , jumlah bunga dan bobot tanaman tidak berbeda nyata dengan media serbuk sabut kelapa + zeolit yang ditutup serat sabut kelapa sebagai mulsa (Tabel 6). Kultivar Tropical mempunyai daun, tinggi, bunga dan bobot tanaman tertinggi. Penambahan bobot tanaman kultivar Tropical 10,76 kali , selanjutnya diikuti Fantasia dan Yose yaitu masing – masing 8,25 kali dan 7,69 kali. Pemberian pupuk dengan kepekatan ion 1,0 dS/m dapat meningkatkan jumlah bunga 2,69 kali dibandingkan kontrol (Wuryaningsih dkk., 2001). Serat sabut kelapa merupakan salah satu hasil dari sabut kelapa biasanya digunakan untuk kerajinan seperti sapu, kamocang dan bahan pengisi jok. Serat sabut kelapa juga dapat digunakan sebagai mulsa pada media tumbuh. Dapat tahan kira – kira satu tahun untuk akhirnya hancur menjadi bubuk. Rongganya banyak, sehingga drainase maupun aerasinya baik. Akar yang masuk diantara serat – serat akan putih mulus dan panjang serta sehat.

Pertumbuhan vegetatif dan generatif mawar pada media serbuk sabut kelapa, serbuk sabut kelapa + zeolit dan tanah lebih baik dibandingkan pada serbuk gergaji. Rataan tinggi tanaman pada serbuk sabut kelapa + 100 g zeolit terbesar yaitu 39,4 cm. Bobot total tanaman dan waktu inisiasi bunga pada media serbuk sabut kelapa mencapai 1,8 kali lebih besar dan 29 hari lebih pendek dibandingkan pada media serbuk gergaji. Tanaman mawar yang ditumbuhkan pada media serbuk sabut kelapa + zeolit menghasilkan daun lebih hijau dan tanaman lebih tegar dibandingkan pada media serbuk gergaji + zeolit. Komposisi media serbuk sabut kelapa + zeolit 100 dan 200 g memenuhi syarat sebagai media tanam bagi budidaya mawar dan dapat digunakan sebagai media pengganti tanah (Wuryaningsih dkk., 2002)
Kualitas bunga potong mawar pada media sekam bakar tidak berbeda nyata dengan kualitas bunga pada media rockwool. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 7 (Tejasarwana, dkk., 2002). Arang sekam mempunyai karakteristik ringan (berat jenis 0,2 kg/l), kasar sehingga sirkulasi udara tinggi, kapasitas menahan air tinggi, berwarna hitam sehingga dapat mengabsorbsi sinar matahari dengan efektif. Rongganya banyak sehingga akan baik aerasi dan drainasenya, sedangkan akar akan mudah bergerak diantara butiran arang sekam tersebut. Arang sekam mempunyai daya melapuk lambat dan dianggap dapat bertahan kira-kira satu tahun, setelah mana arang menjadi partikel yang lebih halus, sehingga menjadi kompak. Dalam pembuatannya temperaturnya cukup tinggi sehingga arang sekam steril dan tidak memerlukan desinfeksi dengan kemikalia apapun.

Sedangkan rockwool merupakan media impor dan dapat dibeli dalam jumlah terbatas. Berasal dari batu kali yang dicairkan dengan suhu 2 200oC, kemudian diperas keluar sebagai serat dan diberi bentuk. Menyerap air dengan baik, tetapi tetap masih banyak mengandung rongga didalamnya, sehingga aerasi masih baik. Bersifat netral dan ringan, tidak mengandung hara sama sekali dan sangat tergantung pada masukkan pupuk NPK yang kita berikan. Biasanya digunakan dengan sistem hidroponik, kestabilan kelembaban di dalam media sangat baik. Sebagai bahan media yang anorganik karena terdiri dari silikat, maka busuk akar jarang terjadi pada tanaman yang menggunakan media ini. Rockwool dibuat dari batu yang dipanaskan dalam stasiun peleburan dan dipintal dalam bentuk serat – serat yang dipintal seperti spons. Rockwool mempunyai sifat – sifat sbb : 1) sangat ringan, 2) Sebagian besar tipe rockwool mempunyai + 5 % bahan padat dari volume. Mempunyai ruang yang banyak yang dapat terisi oleh udara, hara dan air, 3) Umumnya tidak dapat kelebihan air (selalu ada ruang udara yang cukup), 4) Rasio air dan udara pada lempeng dengan drainase bebas adalah 2 bagian air dan 1 bagian udara, 5) Proses pengeringan lama sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya kekurangan air bagi tanaman, 6) Secara keseluruhan steril. Jika diperlukan sterilisasi dapat dilakukan dengan steam atau kimia, 7) Bersifat insulasi yang baik, sehingga dapat mempertahankan daerah perakaran dari suhu yang terlalu panas atau terlalu dingin, Tanaman dapat memperoleh air pada saat kadar air hanya 10 – 20 % dari kapasitas menahan air dari rockwool, 9) Kelebihan air dapat cepat dibuang, 10) Kadar air bervariasi dalam ketebalan lempeng, sangat basah di bagian bawah dan lebih kering di bagian atasnya. Ikatan terhadap air ringan sehingga air tersedia bagi tanaman.

KESIMPULAN
Arang sekam, zeolit maupun pasir merupakan media untuk pengakaran stek melati, sedangkan tanaman hias Dracaena godseffiana sekam padi.
Tanaman hias pot Spathiphyllum menggunakan campuran media tanah : kompos daun bambu : pupuk kandang = 1 : 3 : 1. Kompos daun bamboo, sekam padi yang telah dikomposkan, kompos daun kaliandra maupun kompos daun andam maupun campuran kompos tandan kosong kelapa sawit : pupuk kandang = 1 : 1 sebagai pilihan alternatif. Serbuk sabut kelapa maupun serbuk sabut kelapa + zeolit merupakan media tumbuh krisan pot, sedangkan untuk anthurium pot serbuk sabut kelapa maupun serbuk sabut kelapa + arang sekam dengan EC pemberian pupuk NPK 1 dS/m. Melati pot menggunakan serbuk sabut kelapa maupun serbuk sabut kelapa + zeolit sedangkan arang sekam + zeolit untuk media mawar pot.
Bunga potong anthurium di lapangan menggunakan media serbuk sabut kelapa + zeolit maupun serbuk sabut kelapa + zeolit + serat sabut kelapa sebagai mulsa, sedangkan untuk mawar taman media serbuk sabut kelapa + zeolit.
http://wuryan.wordpress.com/2008/06/29/media-tanam-tanaman-hias/